Semut dikenal sebagai serangga yang sangat kecil dan sering sekali jumpai di sekitar kita. Semut merupakan serangga sosial dan berkoloni sangat banyak. Setiap koloni terdiri dari kasta ratu, prajurit dan pekerja.
Tahukah kamu bagaimana semut bisa menemukan makanan di sekitarnya? Meski kecil, semut merupakan serangga yang cukup pintar dalam melakukan banyak hal. Ini dilakukan semata-mata untuk mempertahankan hidup mereka. Jika sebuah koloni semut menemukan sumber makanan, maka koloni akan memikirkan cara agar bisa menjangkau tempat tersebut dengan cepat. Saat koloni mengirim semut pekerja untuk mencari makan, mereka dapat berjalan cukup jauh saat keluar dari sarangnya. Semut pekerja tidak memiliki 'pola’ ketika sedang berjalan mencari sumber makanan. Sebaliknya, semut menemukan makanan dengan cara berjalan secara acak atau tanpa pola. Semut cenderung memilih jalan dengan permukaan lembut, namun jika jalan itu terlalu jauh, maka jalan yang keras bisa dijadikan pintasan bagi mereka.
Selama perjalanannya mereka akan meninggalkan jejak atau cairan kimia yang disebut feromon untuk membantu mereka menemukan jalan kembali ke rumahnya. Setelah sumber makanan sudah ditemukan, semut pekerja akan melepaskan lebih banyak feromon yang berfungsi sebagai sinyal atau pesan ke seluruh koloni bahwa sumber makanan telah ditemukan. Kemudian semut lainnya akan keluar dari sarang, dan mulai mengikuti jejak feromon dengan menggunakan antenanya untuk menuju ke sumber makanan dan bersama-sama membawa makanan tersebut kembali ke sarang.
Lalu bagaimana jika para koloni semut ini kehilangan jejak feromon? Sudah pasti para koloni semut yang sudah jauh mencari makanan akan sangat sulit mencari arah ke sarangnya karena feromon yang ditinggalkan oleh semut sudah hilang. Meski tidak menularkan penyakit ke manusia, keberadaan semut tetap perlu dikendalikan.