Kehadiran tikus pada bangunan bukan sekadar masalah estetika atau kerusakan barang. Tikus bisa membawa vektor berbagai penyakit berbahaya, salah satunya adalah Hantavirus. Virus ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius yang menyerang sistem pernapasan dan ginjal manusia. Dalam periode 2024-206, Kementerian Kesehatan RI mencatat total 23 kasus hantavirus di Indonesia dengan 3 kasus kematian.
Lalu apa itu Hantavirus?
Hantavirus adalah kelompok virus yang disebarkan terutama oleh hewan pengerat (tikus). Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularan paling umum terjadi melalui aerosolisasi, yaitu ketika partikel kotoran tikus yang kering terbawa ke udara dan terhirup oleh manusia saat sedang berada pada area tersebut atau membersihkan area yang kotor.
Gejala awal hantavirus seringkali menyerupai flu (influenza), sehingga penderita sering terlambat menyadarinya. Gejala tersebut meliputi demam tinggi, sakit kepala, Nyeri otot (terutama di bagian punggung dan paha), Mual, muntah, dan diare. Jika tahap sudah lanjut, penderita bisa terkena sesak napas akut dan hal ini harus cepat ditangani oleh tim medis.
Langkah utama dalam menangani ancaman hantavirus adalah memutus rantai penularan dengan menghilangkan sumber masalahnya, yaitu populasi tikus. Berikut langkah-langkahnya:
- Jangan biarkan sisa makanan terbuka dan pastikan tempat sampah tertutup rapat.
- Menutup Akses masuk tikus, karena tikus hanya membutuhkan 1cm sebagai akses keluar dan masuk.
- Gunakan APD lengkap, Jangan menyapu atau memvakum kotoran tikus yang kering karena dapat menerbangkan virus ke udara. Basahi area dengan disinfektan sebelum dibersihkan.
- Gunakan jasa pembasmi tikus profesional jika populasinya sulit untuk dikendalikan.
Mengingat risiko kesehatan yang sangat tinggi, penanganan mandiri seringkali tidak cukup. Menggunakan tenaga profesional dari jasa pest control adalah langkah preventif paling efektif untuk melindungi keluarga atau lingkungan kerja Anda.
Layanan profesional tidak hanya membantu membasmi tikus yang ada, tetapi juga melakukan pemetaan area risiko, penutupan akses masuk, dan pemantauan berkelanjutan untuk memastikan lingkungan tetap steril dari ancaman Hantavirus.