Lewati ke konten

Nyamuk

Kasus DBD Sampai 35 Ribu Dalam 3 Bulan, Kemenkes Imbau DBD Belum Mencapai Puncak

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk bernama Aedes aegypti. Penyakit ini masih menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia, dan…

Oleh Tim Teknis ETOS

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk bernama Aedes aegypti. Penyakit ini masih menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia, dan tingkat penyebarannya di Indonesia termasuk yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara.

Penyebab DBD adalah virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui nyamuk Aedes aegypti. Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia, virus masuk ke dalam tubuh manusia.

Nyamuk Aedes aegypti umumnya berukuran kecil dengan tubuh berwarna hitam pekat, memiliki dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada kaki. Nyamuk ini aktif terutama pada pagi hingga sore hari, meskipun kadang-kadang mereka juga menggigit pada malam hari. Mereka lebih sering ditemukan di dalam rumah yang gelap dan sejuk dibandingkan di luar rumah yang panas.

Faktor risiko seseorang terkena demam berdarah dengue antara lain tinggal atau bepergian ke daerah tropis. Selain itu, memiliki riwayat terinfeksi virus dengue sebelumnya juga meningkatkan risiko mengalami gejala yang lebih parah ketika terkena DBD. Usia di bawah 15 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi terkena demam dengue dan demam berdarah dengue.

Data Kemenkes mencatat, per 26 Maret 2024 kasus Dengue di Indonesia dilaporkan mencapai 53.131 orang, dengan 404 orang dilaporkan meninggal akibat penyakit itu.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu menilai kenaikan kasus demam berdarah dengue dalam beberapa waktu belakangan ini belum mencapai titik maksimal atau masih belum mencapai puncaknya. Ia memprediksi kenaikan kasus dengue masih akan berlanjut hingga musim pancaroba.

“Hasil pantauan kami terus meningkat. Tapi, belum sampai titik maksimal. Nampaknya, potensi kenaikan masih akan terjadi, mungkin sampai musim pancaroba mendatang.” jelas Dirjen Maxi di Jakarta, dalam keterangan resmi.

Menurutnya, hal yang terpenting adalah tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan sebagai upaya untuk mengendalikan kasus DBD agar segera turun. "Kami menghimbau masyarakat untuk melakukan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara berkala dan menyeluruh, terutama saat musim hujan seperti sekarang ini. Mulai sekarang, cek kebersihan di rumah maupun lingkungan sekitar. Jangan sampai ada barang-barang yang berpotensi menimbulkan genangan air, kalau dibiarkan nanti bisa jadi tempat berkembang biak nyamuk dengue. Bila menemukan sebaiknya segera dikuras, dikeringkan, atau ditutup bahkan bila perlu didaur ulang.”

Jadi jangan lupa lakukan 3M Plus untuk menghindar dari gigitan nyamuk serta perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Bila perlu, melakukan pengendalian lebih maksimal seperti memanggil Jasa Pembasmi Nyamuk agar hasilnya lebih efektif.

Layanan Pelanggan

Butuh bantuan? Kami siap membantu.

Hubungi tim Customer Care ETOS untuk konsultasi, survei gratis, dan penjadwalan layanan.

Hubungi Kami

© 2026 PT. ETOS INDONUSA. Hak cipta dilindungi.